Investasi Saham Sebagai Aset Keuangan

Pada artikel kami sebelumnya, kita telah membahas tentang Investasi Emas. Maka pada kesempatan kali ini, kita akan mengulas topik yang masih berkaitan dengan dunia investasi lain yaitu tentang investasi saham. Mari kita simak pembahasan selengkapnya berikut ini.

  1. Apa itu Saham
  2. Fundamental Saham
  3. Pengertian Saham Tidur
  4. Saham Gorengan
  5. Kesalahan Umum dalam Perdagangan Saham
  6. Tips Investasi Saham

1. Apa Itu Saham

Sering kita mendengar seseorang ingin mendirikan perusahaan, perusahaan itu menerbitkan selembar surat pernyataan bahwa pemegang surat itu memiliki perusahaan tersebut, surat tersebut dikenal dengan saham.

Pada surat tersebut tidak dituliskan jatuh tempo dana yang diinvestasikan oleh pembeli surat yang diterbitkan. Artinya, pemegang saham tidak mempunyai jatuh tempo selama perusahaan berdiri atau sampai perusahaan dilikuidasi. Namun surat tersebut menyatakan jumlah saham yang dimiliki dan nilai nominal per sahamnya.

Bila nilai nominal saham sebesar Rp 5 juta per saham dan saham yang dimiliki sebesar 10 saham, pemegang surat tersebut melakukan investasi sebesar Rp 50 juta. Nilai nominal saham ini tidak berubah-ubah, terkecuali ada dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan yang bersangkutan.

1.1 Saham Preferen dan Saham Biasa

Saham bisa dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu saham preferen dan saham biasa. Pemegang saham preferen tidak mempunyai hak voting di dalam rapat umum pemegang saham dan mempunyai hak deviden setiap tahunnya. Pada awal terbentuknya perusahaan dan diadakannya penerbitan saham preferen, besarnya deviden perusahaan sudah ditentukan.

Perusahaan wajib membayar deviden setiap tahun walaupun perusahaan mengalami kerugian. Jika pada saat perusahaan mengalami kerugian, perusahaan tidak membayar deviden maka deviden akan dibayarkan pada tahun berikutnya ketika perusahaan sudah untung. Misalkan perusahaan mempunyai pembayaran deviden sebesar Rp. 50 per saham. Maka pada saat rugi, perusahaan tidak membayar deviden tersebut.

Setelah untung pada tahun berikutnya , perusahaan harus membayar deviden sebesar Rp. 100 per saham, dimana Rp. 50 merupakan utang deviden dikarenakan adanya kerugian pada tahun sebelumnya dan Rp. 50 merupakan keuntungan pada tahun berjalan.

Tidak ada kewajiban bagi pemegang saham biasa untuk mendapatkan deviden setiap tahunnya. Keputusan adanya deviden merupakan kebijakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Bila direksi perusahaan memberikan pertanggungjawaban untuk tidak membayar deviden, deviden tidak akan dibagikan.

Namun bila Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memaksakan untuk memberikan deviden, perusahaan harus membagikan deviden walaupun sudah ada kebijakan tidak ada pembagian deviden pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tersebut.

Kewenangan bisa terjadi pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) karena pemegang saham biasa mempunyai hak voting dalam RUPS. Hak voting ini yang dipergunakan perusahaan untuk menentukan pembagian deviden tersebut.

Bila ada salah satu pemegang saham ingin mendapatkan deviden dan hal itu dikemukakan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), biasanya pemegang saham lain akan mendukung sehingga ada pembagian deviden dengan hak voting tersebut.

Pemegang saham preferen dan saham biasa mempunyai hak yang sama dalam pembagian harta perusahaan yang dibayar secara proporsional bila perusahaan dilikuidasi setelah pembayaran utang perusahaan dilunasi. Bila nilai aset yang dimiliki perusahaan tidak cukup untuk membayar utang perusahaan, pemegang saham tidak menerima apa pun dan tidak juga membayar kekurangan utang akibat aset yang kurang tersebut.

1.2 Perusahaan Tertutup

Pada pendirian perusahaan, pemegang saham perusahaan tidak mungkin banyak, misalnya pemegang saham perusahaan hanya lima pihak. Perusahaan ini disebut perusahaan tertutup, bila salah satu pihak ingin menjual sahamnya, pemegang saham yang menjual harus menawarkan terlebih dahulu kepada keempat pemegang saham lainnya. Pemegang saham tersebut tidak bisa menawarkan saham kepada pihak lain selain kepada keempat pemegang saham tersebut.

Biasanya, aturan penjualan saham ini dibuat dalam akta perusahaan. Bila keempat pemilik saham itu tidak mau membeli saham, penjual saham bisa menjual saham tersebut kepada pihak lain. Penjual saham harus mendapatkan penyataan bahwa pihaknya tidak keberatan saham tersebut dijual kepada pihak lain. Surat pernyataan ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi persoalan tuntutan di kemudian hari.

Kemudian, bila perusahaan membutuhkan dana dalam rangka pengembangan perusahaan, dana yang dibutuhkan harus dari penerbitan saham. Bila dana yang dibutuhkan sebesar Rp. 30 milliar, dana ini harus disetor oleh pemilik saham yang ada saat itu. Pemegang saham menyetor dana secara proporsional yang totalnya Rp. 30 milliar.

Bila salah satu pemegang saham tidak memiliki dana untuk membeli saham tambahan, pembelinya bisa dari pemegang saham yang ada. Jika semua pemegang saham belum bisa membeli saham yang diterbitkan , dana dapat ditawarkan kepada pihak lain setelah mendapatkan persetujuan dari semua pemegang saham. Biasanya, persetujuan tersebut ditentukan melalui sebuah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

1.3 Perusahaan Terbuka

Selanjutnya, bila perusahaan telah menawarkan sahamnya kepada publik, perusahaan tersebut dikenal sebagai perusahaan terbuka dengan singkatan Tbk. Biasanya pemegang saham perusahaan akan melebihi 300 pihak dan bursa menginginkan jumlah pemegang saham lebih dari 1000 pihak.

Bila salah satu pemegang saham ingin menjual sahamnya, pemegang saham bisa menjual saham secara langsung tanpa meminta persetujuan dari pemegang saham lainnya. Hal ini dapat dilakukan karena sudah diatur dalam perundang-undangan atau dalam akta perusahaan sebelumnya. Perubahan nama pemegang saham secara langsung bisa terjadi karena sudah diurus oleh bursa. Namun, pemegang saham hanya bisa menjual saham ke bursa hanya melalui bantuan perusahaan sekuritas.

Bila perusahaan terbuka tersebut ingin mendapatkan dana, perusahaan tersebut dapat memperolehnya dengan cara menerbitkan saham baru. Tindakan ini disebut juga aksi korporasi (Corporate Action) yang dikenal dengan istilah right issue.

Tindakan ini menyatakan bahwa saham yang dibeli mempunyai harga tertentu dan biasanya lebih murah daripada harga saham di bursa. Bila seorang investor ingin mendapatkan saham yang diterbitkan, investor tersebut harus membayar senilai harga saham yang tertera pada tindakan aksi korporasi right issue tersebut dan sejumlah right sesuai penawaran yang dilakukan.

Perusahaan menawarkan saham dengan rasio tertentu, misalnya rasio yang paling sederhana, satu pemegang saham lama akan mendapatkan satu saham baru dimana harga saham baru Rp. 1.300 per saham dan harga saham di bursa Rp 1.500 per saham. Artinya, investor harus menyampaikan satu right dan menyetor uang Rp. 1.300 kepada perusahaan, maka akan diperoleh satu saham baru.

Bila pemegang saham lama tidak ingin membeli saham baru tersebut, pemegang saham tersebut menjual rightnya ke bursa dengan harga Rp. 100 per saham (Rp. 1.500 – (Rp, 1.300 + Rp.1.500)/2). Pemahaman atas tindakan right issue perlu dipahami agar tidak mengalami kerugian.

2. Fundamental Saham

Fundamental Saham

Pernah mendengar kalimat fundamental sebelumnya? atau penggunaan kata fundamental di gabungkan dengan kata lainnya seperti analisis fundamental, dan yang lainnya? Lalu apa arti dari kata fundamental ini? mengapa sering sekali di pergunakan?

Fundamental bisa mengandung arti sebuah kata yang merujuk kepada sebuah prinsip yang menyatakan dasar dari sebuah kenyataan atau foundation of reality. Dalam lingkungan saham, fundamental lebih sering di kenal dengan kalimat Fundamental Saham, atau analisis fundamental.

Analisis fundamental ini dipergunakan untuk menganalisa pergerakan yang terjadi dalam pasar modal berdasarkan faktor-faktor tertentu. Dengan adanya analisis fundamental atau fundamental saham ini maka, resiko untuk mengalami kerugian dapat dikurangi atau bahkan dihindari.

Bagi seorang investor, sebuah kenaikan atau penurunan nilai saham mungkin tidak terlalu berpengaruh. Karena bagi seorang investor cukup untuk mengamati nilai pergerakan saham yang dimiliki saja. Dengan begitu akan mengetahui keuntungan yang mungkin dicapai oleh perusahaan yang dimiliki sahamnya.

Lalu faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai fluktuasi sebuah saham? Sebenarnya banyak, tapi faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat faktor fundamental, antara lain:

  • Faktor Politik
    Faktor politik merupakan salah satu alat indikator yang bisa memprediksi pergerakan nilai tukar, tapi waktu/timingnya sangat sulit ditentukan dan sulit diperkirakan apa dampaknya terhadap fluktuasi nilai tukar.
  • Faktor Keuangan
    Adanya perubahan dalam kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan oleh suatu pemerintahan, terutama yang menyangkut dengan perubahan tingkat suku bunga, akan membawa dampak signifikan terhadap perubahan dalam fundamental ekonomi.
    Perubahan kebijakan ini mempengaruhi nilai mata uang, yang berarti akan mempengaruhi nilai saham atau bisa juga mempengaruhi keuntungan yang didapat oleh suatu perusahaan.
  • Faktor Eksternal
    Perubahan ekonomi dalam suatu Negara bisa membawa dampak bagi perekonomian di negara-negara lain yang terdapat di dalam kawasan yang sama. Arus portofolio modal tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara.
    Sehingga perubahan ekonomi bukan saja dicermati hanya dalam lingkup satu Negara, melainkan juga meluas hingga ke dalam lingkup satu kawasan / regional tertentu.
  • Faktor Ekonomi
    Ekonomi, tentunya merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dipisahkan serta menjadi bagian penting dari keseluruhan faktor fundamental itu sendiri.
    Indikator-indikator seperti produk nasional bruto, produk domestik bruto, dan tingkat inflasi sering di perhatikan karena hal-hal seperti ini yang bisa mempengaruhi nilai fluktuasi dari suatu saham.

Walaupun faktor-faktor tersebut yang mempengaruhi nilai dari sebuah saham, masih ada faktor-faktor lainnya yang bisa dilakukan analisis Fundamental Saham. Analisis ini haruslah tetap dilakukan bagi seorang trader maupun bagi seorang investor.

3. Pengertian Saham Tidur

Pengertian Saham Tidur

Saham tidur adalah saham yang pergerakannya stagnan, hingga menyebabkan harganya terus mengalami penurunan. Sebagai contoh, pada tanggal 1 Januari 2019, PT. A melakukan penawaran perdana saham (IPO) kepada investor dengan harga Rp. 100 per lembar saham.

Sebagai investor, kita tertarik membeli 1 lot saham (500 lembar) dengan nilai Rp 50.000,-. Sebagai investor tentunya kita mengharapkan keuntungan dari saham yang telah kita beli pada masa yang akan datang. Akan tetapi ternyata saham PT. A dalam beberapa bulan selanjutnya mengalami penurunan harga, bahkan stagnan tidak ada pergerakan harga, ini yang dinamakan saham tidur.

Untuk itu, sebagai investor yang tidak ingin mengalami kerugian dikemudian hari, sebelum membeli sebuah saham untuk investasi pelajari secara seksama riwayat perusahaan, jenis usahanya, laporan keuangannya, baca prospektusnya secara teliti.

Bagi para investor yang telah membeli saham tidur adalah suatu kerugian, dengan sejumlah dana yang telah dikeluarkan untuk pembelian saham tentunya mengharapkan imbal balik yang sesuai. Akan tetapi bukan keuntungan yang didapatkan malah kerugian yang diderita.

Belum lagi saham tidur merupakan saham yang sulit dijual. Sampai saat ini belum ada sanksi yang jelas dari Bursa Efek Indonesia (idx.co.id) untuk menindak secara tegas perusahaan yang sengaja membiarkan sahamnya tidur. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia pada bulan Juni tahun 2019, ada sekitar 20 saham emiten masuk dalam kategori saham yang tidak banyak ditransaksikan atau saham tidur. Fenomena ini telah menjadi perhatian serius dari otoritas bursa.

Saham tidur akan selalu ditemui disemua bursa efek diseluruh dunia, beberapa rencana strategi yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia untuk membangunkan saham yang tidur diantaranya rencana pemangkasan jumlah saham per lot dari 500 lembar saham menjadi 100 lembar saham, serta menggelar berbagai workshop kepada emiten yang memilki saham tidur.

3.1 Alasan Sebuah Saham Bisa Tidur

  • Saham yang beredar jumlahnya terbatas.

Dengan terbatasnya jumlah saham yang dipasarkan akan menyebabkan tidak banyak transaksi yang terjadi. Para trader umumnya tidak tertarik untuk membeli saham yang jumlahnya hanya sedikit di pasaran, hal ini membuat lama kelamaan saham menjadi tidur.

  • Saham tersebut hanya kuasai oleh kalangan terbatas.

Pada saat penawaran perdana atau Initial Public Offering, saham yang ditawarkan cukup banyak, namun ketika memasuki pasar sekunder, saham baik secara langsung atau tidak langsung dibeli oleh beberapa kalangan tertentu yang menyebabkan sedikit sekali saham yang beredar di pasaran, hal ini membuat saham berubah menjadi saham tidur.

  • Kinerja perusahaan emiten memburuk atau mengalami penurunan.

Ketika mendapatkan informasi mengenai kinerja perusahaan emiten yang mengalami penurunan, maka para investor biasanya akan melakukan aksi jual terhadap saham tersebut, namun pada kondisi tersebut tidak banyak pihak yang bersedia membelinya karena takut mengalami kerugian. Harga saham pada saat ini akan mengalami tekanan ke harga yang terendah menyusul minimnya transasksi yang terjadi. Kondisi seperti ini lama kelamaan akan menyebabkan saham ini menjadi saham tidur.

  • Ketidakpedulian Perusahaan Emiten.

Pada kasus ini, manajemen perusahaan bersikap tidak peduli apakah harga saham mengalami kenaikan atau tidak. Mereka telah cukup senang dengan modal yang telah didapatkan dari para investor pada saat penawaran perdana penjualan saham.

Untuk kasus seperti ini seharusnya Bursa Efek Indonesia memberikan sanksi yang tegas, namun sampai saat ini belum ada peraturan yang mengaturnya sehingga perusahaan emiten terkesan hanya ingin mereguk keuntungan sesaat dengan mengorbankan para investor yang telah memiliki sahamnya. Dalam hal ini investor amat sangat dirugikan.

3.2 Membuat Saham yang Tidur Aktif Kembali

Untuk meningkatkan kembali transaksi saham yang telah tidur di bursa saham, salah satu langkahnya adalah melakukan penambahan jumlah saham yang beredar di pasaran dengan cara menambah saham baru, melepas sebagian kepemilikan saham serta melakukan stock split.

Selanjutnya dengan melakukan ekspose ke publik serta roadshow, perusahaan emiten harus proaktif memberikan informasi tentang perkembangan perusahaan kepada pada investor maupun calon investor. Hal ini perlu dilakukan agar investor tahu prospek perusahaan kedepannya.

Untuk membangunkan saham yang sudah tidur sangat dibutuhkan ketegasan serta kebijakan tertentu dari pihak otoritas untuk memberikan aturan serta sanksi yang jelas sehingga saham tidak terjadi pembiaran oleh perusahaan emiten menjadi saham tidur.

4. Saham Gorengan

Saham Gorengan

Tidak ada definisi acuan teori-teori yang jelas, lengkap dan ilmiah mengenai asumsi dan pengertian dari saham gorengan atau ada yang menyebutnya saham sampah atau ada juga yang menjulukinya saham receh. Istilah saham Gorengan muncul dari sebuah fenomena yang terjadi dalam dunia trading saham di dunia pasar modal.

Sampai saat ini belum ada satupun penelitian ilmiah yang bisa dibuktikan secara empiris tentang lebih banyak mana manfaat saham gorengan bagi masyarakat luas pada umumnya dan dari sisi pemain yang bermain saham gorengan tersebut.

Secara sederhana, saham gorengan adalah saham-saham yang dipilih dan dimainkan oleh pemodal besar ataupun retail dengan membentuk sebuah kelompok yang tujuannya menaikkan harga saham, dengan harapan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan tingkat resiko yang telah diukur (oleh bandar, insider, ataupun trader retail).

Biasanya, metode yang ‘mereka’ lakukan adalah dengan cara menciptakan rumor yang menyesatkan (Tadlis Modern) melalui media cetak, media elektronik, dan media sosial seperti facebook, twiter dan sebagainya, dengan tujuan memancing pemodal lain agar berpartisipasi untuk ikut dalam arus permainan yang sengaja diciptakan pemain saham gorengan itu sendiri.

Saham gorengan atau saham receh seperti ini biasanya menjadi mainan empuk di dalam praktek goreng menggoreng saham. Karena itu, harganya sangat mudah naik dan turun dengan cepat tanpa sebab yang jelas, sehingga menyebabkan risiko bertransaksi saham ini sangat tinggi. Tak sedikit yang tergiur saham seperti ini, karena harganya yang sering tiba-tiba melejit.

Banyak investor berpikir untuk mencoba-coba saham ini, syukur-syukur bisa untung. Dalam banyak kasus mereka lebih sering rugi karena perdagangan saham ini dikuasai oleh ‘bandar’. Jadi investor lebih bergantung pada ‘kebaikan hati bandar’. Yang dimaksud ‘bandar’ di sini adalah institusi atau pribadi yang memiliki cukup modal untuk menggerakkan suatu harga saham.

4.1 Ciri-Ciri Saham Gorengan

Untuk lebih memudahkan anda dalam mengidentifikasi, berikut kami rangkum beberapa ciri-cirinya:

  • Kapitalisasi pasar rendah.
  • Non likuid, tidak sering ditransaksikan, namun disaat tertentu bisa sangat sering ditransaksikan.
  • Harga terbilang murah, kisarannya diantara Rp. 50 sampai Rp. 500, sebenarnya tidak ada batasan pasti tentang masalah harga ini.
  • Manajemen perusahaan biasanya tertutup, fundamental juga sering tidak jelas.
  • Harganya sering melejit dan turun tanpa sebab, seringkali disuspensi.
  • Harga saham kadang suka-suka, kalau IHSG naik belum tentu ia juga ikut naik, demikian pula sebaliknya.

4.2 Tips Menghadapi Saham Gorengan

Berikut ini beberapa tips bagi kita untuk menghadapi saham gorengan:

1) Miliki Rencana Trading (Trading Plan). Setiap pagi sebelum pasar saham dibuka, trader professional biasanya sudah memiliki kertas contekan yang berisi rencana transaksi beli atau jual saham-saham apa dan diharga berapa. Dengan memiliki rencana, anda akan lebih terhindar dari bujuk rayu saham-saham “gorengan”.

2) Pantau volume transaksinya. Jika volume transaksi cenderung tinggi, artinya saham tersebut diperdagangkan oleh banyak pihak dengan jumlah yang cukup banyak. Jika volume transaksi yang awalnya sangat kecil, tiba-tiba melonjak lalu mengecil lagi kesokan harinya, maka resiko rugi saham itu semakin besar.

3) Kenali ciri-ciri saham gorengan. Pergerakan saham tidak berdasarkan fundamental dan teknikal tetapi lebih bergerak sesuai keinginan si ‘market maker’. Trader perlu waspada terhadap saham-saham yang biasanya tidur terus tiba-tiba menjadi saham yang aktif pergerakannya.

Karena setelah aktif beberapa hari, saham tersebut mungkin akan tidur lagi dalam waktu yang lama. Beberapa saham kadang ‘digoreng’ dengan bumbu bahwa sahamnya akan diakuisisi oleh grup konglomerasi dalam maupun luar negeri.

4) Mengambil posisi beli ketika saham tersebut baru mulai bergerak di hari pertama. Biasanya jika ada saham yang aktif, trader dapat langsung memantau pergerakannya di grafik apakah baru bergerak atau sudah berhari-hari naik. Logikanya adalah membeli saham ketika harga baru naik resikonya jelas lebih rendah dibandingkan jika membeli ketika harga sudah naik empat hari kemudian.

5) Tentukan Level Beli. Masuklah saat saham mulai aktif dan volume transaksi tinggi. Anda juga bisa masuk membeli saham saat terjadi break. Lebih baik lagi, jika ditemui pola flag, yakni sesudah saham tersebut naik sangat tinggi lalu konsolidasi.

6) Tentukan Level Jual Untuk Stop Loss. Ada banyak metode yang bisa digunakan, seperti Anda bisa menjual 1/3 dari keuntungan. Bisa juga proteksi diambil dua persen dari harga beli. Apapun metode proteksinya, yang lebih penting adalah disiplin melakukannya

5. Kesalahan Umum dalam Perdagangan Saham

Kesalahan Umum dalam Perdagangan Saham

Perdagangan saham yang berhasil membutuhkan disiplin, dedikasi, modal kerja yang memadai, dan strategi saham yang ampuh. Sebagian besar kesalahan perdagangan saham yang dibuat oleh pemula biasanya merupakan kesalahan dalam tahap persiapan.

Mereka yang berhasil dalam perdagangan saham adalah mereka yang siap!. Pedagang saham yang sukses mempunyai rencana yang matang dan mereka tetap konsisten dengan rencana mereka tersebut. Memiliki rencana akan membantu anda untuk mengurangi atau bahkan menghindari kerugian.

Alasan utamanya adalah bahwa rencana perdagangan membantu untuk menghilangkan dugaan. Dugaan adalah kesalahan perdagangan yang paling berperan. Hal yang tidak sepatutnya terjadi saat anda berada di tengah perdagangan dan pada saat yang sama anda bertanya-tanya apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Berikut ini beberapa kesalahan umum perdagangan saham yang sering terjadi:

  • Harapan yang tidak realistis

Ini adalah salah satu kesalahan yang paling umum dalam perdagangan saham. Para investor pemula sering percaya pada iklan berbagai produk perdagangan yang tersedia secara komersial di pasar saat ini. Klaim aneh tentang keuntungan berlipat ganda per bulan akan sangat menggoda bagi mereka yang tidak tahu cara berinvestasi saham sesungguhnya.

  • Kegagalan untuk belajar perdagangan saham

Kesalahan terbesar bagi para pemula. Banyak orang percaya bahwa karena mereka telah mencapai tingkat keberhasilan dibidang lain, maka mereka beranggapan bahwa mereka akan berhasil dalam perdagangan saham. Hal ini tidak benar! Perdagangan saham membutuhkan tindakan yang mungkin tampak berlawanan.

Banyak dari jenis-jenis tindakan yang unik dalam dunia perdagangan saham yang tidak dipelajari di berbagai bisnis pada umumnya. Hal yang paling perlu untuk dilakukan adalah mempelajari seluk beluk perdagangan saham sebagai suatu keterampilan dengan teknik belajar yang sangat spesifik dan hanya ada dalam perdagangan saham.

  • Modal kerja yang tidak memadai

Mencoba untuk membuat $100.000 per tahun mulai dengan $100 tidak memerlukan sistem perdagangan saham yang besar, itu adalah sebuah keajaiban! Hal ini sama dengan memiliki harapan yang tidak realistis. Perdagangan saham sama seperti bisnis yang lain, ia membutuhkan jumlah modal yang tepat agar bisnis anda dapat berjalan dengan benar.

  • Takut kehilangan

Rasa takut menderita kerugian sangat umum di antara para investor pemula. Tidak ada seorangpun yang sengaja bangun di pagi hari dan mengharapkan kerugian dalam perdagangan sahamnya. Namun demikian, para pedagang saham yang sukses memiliki pendirian yang berbeda.

Mereka menyadari sejak awal bahwa melalui beberapa jenis saham dan melakukan perdagangan saham secara terus menerus dalam beberapa hari atau beberapa bulan adalah merupakan strategi yang terbaik. Pemahaman ini juga membantu mereka dalam mempersiapkan mental mereka untuk menerima kerugian di awal perdagangan saham.

Dengan menghindari kesalahan-kesalahan umum dalam perdagangan saham dan menghindari perangkap, anda dapat mempercepat pertumbuhan portfolio anda sebagai pedagang saham.

5. Tips Investasi Saham

Tips Investasi Saham

Investasi pasti selalu memiliki resiko, baik yang beresiko tinggi (high-risk), rendah (low-risk) atau resiko yang mendekati nol (risk-free). Lantas bagaimana tips dalam investasi saham? Berinvestasi di pasar modal selalu memiliki resiko yang lebih tinggi daripada anda berinvestasi pada deposito, reksadana, atau emas misalnya.

Untuk berinvestasi pada pasar modal atau saham, anda harus mengerti betul dan mampu menganalisa pergerakan harga saham dan memiliki intuisi yang kuat terhadap saham yang berpotensi menguntungkan anda.

Banyak pemula dalam investasi saham dan trading melupakan hal yang sederhana, sehingga membabi buta membeli berdasarkan rekomendasi dari pihak lain, lihat saham teraktif, saham yang murah di beli dan lainnya. Padahal itu tidak selamanya benar.

Baru-baru ini ada satu saham yang di suspend oleh otoritas bursa, meskipun pergerakannya cukup aktif dan memiliki nilai transaksi yang besar. Akibatnya, uang para investor yang tertanam tidak bisa keluar dan masuk, atau malah tidak bisa diperdagangkan lagi untuk selamanya.

Kasus lainnya, banyak investor pemula ingin coba-coba dengan membeli saham yang harganya murah. Hal tersebut tidak ada salahnya, banyak saham yang memiliki harga di bawah Rp. 1.000 tapi memiliki prospektif yang cerah di masa depan. Belilah saham murah yang akan menjadi mahal dan tidak murahan.

Jika anda membeli saham tanpa analisa sama sekali itu namanya judi, dan judi memiliki ketidakpastian yang sangat besar. Dalam dunia bisnis, judi seringkali berakhir dengan kebangkrutan.

Menurut Ryan Filbert, penulis buku ‘Investasi Saham ala swing trader dunia’, anda harus memiliki analisa teknikal dan fundamental yang mendukung sebelum membeli saham. Anda perlu mengetahui hal-hal teknis mengenai saham dan tahu hal-hal apa yang mendasari anda untuk membeli saham tersebut.

Di bawah ini adalah beberapa tips dalam investasi saham yang telah kami rangkum dari berbagai sumber, diantaranya:

  1. Lakukanlah analisis fundamental saham di mana penyelidikan dilakukan pada segi fundamental perusahaan dan kinerjanya‭ ‬di Bursa Efek‭ (‬jika saham tersebut telah diperdagangkan di Bursa Efek‭) ‬misalnya melalui prospektus perusahaan,‭ ‬company profile,‭ ‬laporan keuangan,‭ ‬berita-berita pasar modal dan sebagainya.
  2. Anda harus memiliki perhatian penuh pada berita-berita ataupun pengumuman mengenai kemungkinan yang akan terjadi mengenai saham yang akan atau sudah anda beli. Seperti yang telah disebutkan di atas, Analisa yang dikenal sebagai‭ ‘‬analisa teknikal‭’ perlu dipelajari‭ ‬oleh investor karena akan sangat berpengaruh pada keputusan investor untuk melakukan transaksi jual‭/‬beli saham.
  3. Investasi pada perusahaan yang tidak mempublish informasi secara terbuka sebelumnya mengandung resiko yang lebih besar.‭ Keputusan ada pada anda, tentu dengan memperhatikan terlebih dahulu aspek teknis dan non teknis dari perusahaan tersebut

Terakhir yang sangat penting untuk diperhatikan, pada saat anda baru memulai, mungkin anda hanya membeli saham dari satu perusahaan saja. Namun seiring berjalannya waktu, anda pasti ingin menambah nilai investasi anda. Jika anda telah sampai ke tahap ini, ingatlah satu prinsip investasi yang sudah populer dan amat penting yang dapat mengurangi kerugian dari investasi yang anda lakukan, yaitu “‬don’t put all your eggs‭ ‬in one basket‭”.

Demikian pembahasan tentang investasi saham, semoga apa yang telah kami sampaikan bisa memberikan informasi dan wawasan baru seputar dunia investasi khususnya saham. Yang jelas, teruslah belajar dengan mencari informasi/artikel tentang investasi sebanyak-banyaknya di media apapun.

 

Leave a Reply