Kapan Saat Terbaik untuk Berinvestasi?

Saat Terbaik Untuk Berinvestasi

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi. Disiplinlah berinvestasi sesuai tujuan, dan jangan terlalu mengkhawatirkan fluktuasi pasar. “Takutlah ketika orang berani, dan beranilah ketika orang takut”, demikian diungkapkan Warren Buffet.

Ketika di tahun 1973 harga-harga saham di bursa Wall Street berguguran, pemilik Berkshire Hathaway, perusahaan investasi terkemuka di Amerika Serikat itu membeli saham Washington Post seharga US$ 6 per lembar senilai US$ 10,6 juta. Lebih dan 30 tahun kemudian, harga saham Washington Post mencapai US$ 900 per lembar, atau naik 14.900 kali. Kalau disetahunkan, rata-rata return saham media massa itu mencapai 20,7%.

Ini hanya satu contoh saham yang dimiiki orang terkaya di Negeri Paman Sam itu. Buffet tidak menjual sahamnya ketika bursa beberapa kali turun selama ia memegang saham Washington Post. Dan ia juga tidak rakus membeli saham-saham ketika pasar sedang bullish.

Pertanyaannya, kapan Saat Terbaik Untuk Berinvestasi? Jawabannya sama seperti ketika menjawab kapan kita memikirkan kebutuhan masa depan? Kebutuhan masa depan selalu ada, karena itu, harus diingat, investasi adalah untuk memenuhi kebutuhan kita di masa datang, apakah itu kebutuhan 5 tahun, atau 10 tahun ke depan. Untuk biaya sekolah anak, untuk kebutuhan pensiun, dan sebagainya.

Salah satu pilihan investasi adalah instrumen pasar modal, saham, obligasi, atau instrumen pasar uang. Pemodal yang tidak memiliki waktu dan kemampuan menganalisa produk investasi di pasar modal bisa memilih instrumen reksa dana yang dikelola manajer investasi. Investor juga bisa mengalokasikan dana investasi ke produk-produk lainnya, seperti tanah, emas, dan sebagainya, asalkan sesuai dengan kebutuhan investasi.

Di tengah kondisi pasar modal yang saat ini tengah menurun akibat imbas krisis global, menjadi waktu terbaik untuk berinvestasi. Karena harga instrumen investasi apakah itu saham atau obligasi sedang menarik, atau diperdagangkan di bawah harga wajarnya (undervalued). Ingat strategi Buffet, ia membeli saham ketika pasar sedang jatuh. Ia berani masuk ketika orang lain takut. Dan hasilnya, ia rasakan dalam jangka panjang.

Pertama kali yang harus dilakukan investor adalah mengetahui berapa lama kebutuhan jangka panjang yang akan dibiayai melalui investasi. Berapa besar dana yang sanggup disisihkan setiap bulan. Selanjutnya, ketahui profil risiko, apakah kita sanggup menerima fluktuasi. Baru kemudian masuk ke asset allocation (alokasi aset), jenis investasi apa yang bisa memenuhi kebutuhan dan profil risiko. Yang terakhir adalah memilih produk.

Salah satu produk investasi yang bisa dipilih adalah reksa dana. Ada tiga jenis reksa dana yang cocok untuk penerapan alokasi aset. Untuk kebutuhan jangka panjang di atas lima tahun pemodal bisa memiih reksa dana saham. Sementara untuk memenuhi kebutuhan antara 3-5 tahun ada reksa dana pendapatan tetap, dan antara 1-3 tahun reksa dana pasar uang.

Semakin panjang jangka waktu investasi, semakin tinggi risiko investasi, tetapi semakin besar peluang keuntungan (return) yang didapat. Sebaliknya, Semakin pendek waktu investasi, semakin kecil pula risikonya, tetapi lebih kecil pula peluang return-nya. Bagi pemodal yang belum berani berinvestasi di reksa dana saham, ada reksa dana campuran yang merupakan kombinasi reksa dana saham dan pendapatan tetap.

Perlu diingat, produk investasi bukan menggantikan produk perbankan seperti tabungan atau deposito. Filosofi sederhananya adalah seperti ini, ketika orang pertama kali mendapatkan uang, ia akan menyimpan uang itu di dalam dompet, tetapi ketika uang miliknya makin bertambah dan dompet tak lagi bisa menampung, maka ia akan datang ke bank untuk menaruh uangnya.

Dalam perkembangan, ketika semua kebutuhan hidup terpenuhi, maka ia akan mengalihkan sisa dana di luar pembiayaan kebutuhan rutin ke dalam deposito. Dan ketika dana di deposito dianggap telah mencukupi dana darurat (emergency fund), maka ia dapat mengalokasikan dananya untuk membeli produk investasi untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.

Demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini, sedikit gambaran tentang kapankah saat terbaik untuk berinvestasi. Yang terpenting dalam berinvestasi adalah lakukan secara konsisten, apabila kita komit untuk berinvestasi misalnya Rp 2 juta per bulan, lakukan terus menerus sesuai jangka waktu dan tujuan investasi.

Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan gejolak pasar. Strategi alokasi aset menentukan 90% keberhasilan investasi, ketimbang melakukan aktivitas trading atau mencoba memprediksi pergerakan pasar (market timing).

Bagikan:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *